Rabu, 12 September 2012

Dekatkan diri pada Alam di Hutan Manggrove Jakarta, Surabaya dan Bali

Posted by Harry Prasetyo at 00.56
Merasa jenuh dengan aktivitas sehari-hari yang menyesakkan, jengah dengan kemacetan-kemacetan “gila” yang selalau mendera di saat kita berkendara, belum lagi dengan kerja yang tidak ada habis-habisnya. Jelas semua itu menjadi beban tersendiri yang berkontribusi pada timbulnya rasa stres pada diri anda bukan?

Sepertinya anda membutuhkan semacam katarsis untuk melepaskan beban yang semakin menumpuk di pundak. Salah satunya alternatifnya adalah anda harus kembali ke alam. Ya alam, disanalah anda dapat melakukan relaksasi psekaligus membebaskan pikiran, alih-alih kekuatan alam dapat membebaskan anda dari belengu stres yang melanda.

Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah dimanakah “alam” itu ada di saat anda tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta dan . Nah, jangan kuatir jika anda berada di Jakarta sempatkanlah datang di Hutan Manggrove atau Suaka Margasatwa Muara Angke yang berada di utara Jakarta tepatnya di Penjaringan dekat dengan perumahan Pantai Indah Kapuk.
sumber foto: www.uniqpost.com
Mengapa harus kesana?, mungkin itu pertanyaan yang terlintas di benak anda. Di Hutan Mangrove yang merupakan satu-satunya di Jakarta ini mampu menawarkan sensasi tersendiri berikut hiburan “alam” yang tidak dapat ditawarkan oleh tempat-tempat lainnya di Jakarta. 

Suaka Margasatwa Muara Angke  atau yang biasa disingkat SMMA ini adalah kawasan hutan bakau (mangrove) seluas 25,02 hektar dan dihuni sekitar 91 spesies burung, yakni 28 spesies burung air dan 63 spisies burung hutan. Sebagian besar merupakan burung dilindungi, seperti Burung Sikatan Bakau (Cyornis rufigastra), Prenjak Jawa (Prinia familiaris), Cerek Jawa (Charadrius javanicus)

SMMA ini pun menjadi habitat terakhir dari Bubut Jawa (Centropus Nigrorufous), salah satu spesies yang terancam punah dari muka bumi. Selain itu tempat ini juga dihuni oleh Bangau Bluwok (Mycteria Cinerea). Bangun jenis ini diketahui hanya berkembangbiak di Pulau Rambut yang terletak tidak jauh dari Muara Angke

Selain jenis burung, kawasan ini juga masih dapat dijumpai satwa-satwa lainnya semisal monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang hidup berkelompok yang suka memakan daun-daun muda dan buah-buahan seperti Pidada (Sonneratia Caseolaris).

Keberadaan monyet-monyet itu memiiliki arti penting bagi SMMA. Pasalnya,  monyet-monyet itu dapat membantu penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan. Dimana saat mereka mengkonsumsi buah-buahan hutan, biji buah yang tak dapat dicerna akan dikeluarkan kembali bersama feses dan akhirnya akan menjadi benih tanaman yang baru

DI SMMA hidup pula beragam binatang lainnya, mulai dari ular Sanca (Phyton Reticulatus), Biawak (Varanus Salvator), ular Kobra (Naja Sputatrix), ular Welang (Bungarus Fasciatus), ular Kadut ( Homalopsis Buccata), ular Cincin Emas (Boiga Dendrophylla), sampai ular Air (Cerberus Rhynchops)

Berada di Hutan Manggrove ini ada baiknya jika menyusuri board walk di atas rawa yang terbuat dari kayu dengan berjalan kaki, sejauh mata memandang akan terlihat hijaunya warna tanaman bakau. Kicauan burung pantai menjadi musik pengiring langkah kaki anda  berikut dengan pemandangan biawak-biawak yang beruntung jika anda dapat melihatnya. Pohon bakau yang ada memiliki akar tunjang yang bercabang-cabang dan tingginya bisa mencapai 0,5 - 2 meter.

Itu Hutan Mangrove di Jakarta, lantas bagaimana dengan yang ada di Surabaya? Hutan Manggrove di Surabaya terletak di kawasan Pantai Timur Surabaya atau Pamurbaya. Adalah Wisata Anyar Mangrove (WAM)  namanya,  yang terletak di RW VII Kecamatan Gunung Anyar.

Daerahnya yang berada di bibir pantai ini merupakan bentang alam datar dengan kemiringan antara 0-3 persen. Kawasan ini ada kkarena terbentuk dari  hasil endapa sistem sungai yang ada di sekitarnya dan pengaruh laut. Kondisi daerah delta dengan tanah aluvial merupakan habitat yang baik bagi terbentuknya ekosistem mangrove.

sumber foto: wamsby.wordpress.com
Hutan mangrove ini mampu membuat 147 spesies burung untuk datang. Dari 84 spesies burung yang diketahui menetap di Pamurbaya, 12 spesies adalah  jenis yang dilindungi. Jenis burung tersebut tidak hanya burung air seperti kuntul perak, pecuk hitam, mandar padi, mandar batu, dan kowak malam. Selain itu, tempat ini merupakan tempat persingahan ribuan burung migran setiap tahun. Diketahui ada 44 jenis burung migran yang singgah di Pamurbaya. Burung tersebut kebanyakan asal Benua Australia menuju Eropa.

Dengan harga yang terjangkau, masyarakat bisa menikmati keindahan hutan mangrove yang masih "perawan" dengan menyusuri Sungai Kebun Agung hingga Sungai Tambak Klangri. Ingin berkeliling memnyusuri tak pelru kuatir karena  bisa berkeliling menyusuri pantai berhutan bakau tersebut.

Pengelola telah menyiapkan sebuah perahu motor berkapasitas maksimal 40 orang untuk menikmati keindahan lokasi itu. Untuk pengamanan, pengelola juga menyediakan pelampung dan fasilitas wisata lainnya. Perahu yang disewakan tersebut biasanya bergerak mulai dari dermaga Sungai Wonokromo menuju Selat Madura. Para pengunjung bisa menikmati rimbunnya hutan mangrove, burung-burung yang beterbangan  dan hinggap di ranting-ranting pohon mangrove.

Sedikit ke Timur, ada Hutan Manggrove Bali yang berada di kawasan Suwung Kauh, Denpasar. Hutan yang berada di sebelah kiri jalan By Pass Ngurah Rai ini merupakan proyek pengembangan pengelolaan hutan mangrove yang dibantu oleh pemerintah Jepang melalui Japan Internasional Cooperation Agency (JICA)

Apa saja yang ada di sana? seperti umumnya hutan manggrove lainnya, apa yang ada di hutan manggrove ini pun tak jauh berbeda, mulai dari pemandangan yang menyejukkan plus hewan-hewan yang biasa mendiami hutan mangrove.

Untuk mengelilingi hutan dapat menggunakan jembatan kayu yang telah disediakan. Jembatan ini sangat panjang dan di beberapa titik terdapat menara pantau berikut dengan pondok persitirahatan. Harga tiketnya sangat murah, tak lebih dari Rp.10.000 anda pun dapat mengitari hutan mangrove sampai puas(berbagai sumber)




2 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos