Minggu, 13 Mei 2012

Cerita Naga di SebuahTelaga

Posted by Harry Prasetyo at 21.47
Sebenarnya apa sih perbedaan antara danau dengan telaga, bukankah keduanya sama alias tidak ada perbedaannya? Itu pikiran saya, bagaimana dengan difinisi telaga menurut wikipedia? kalau telaga menurut wikipedia adalah semacam danau kecil dimana sinar matahari dapat menembus sampai dasarnya.
            Namun apakah benar bisa menembus sampai dasarnya, lantas bagaimana jika telaga itu sangat dalam apakah sinar matahari dapat menembus sampai dasarnya? Nah ini persoalan lain, namun terlepas dari difinisinya itu, ada satu cerita yang menarik untuk disimak perihal beberapa telaga sebagai objek wisata yang ada di indonesia. Ternyata dua telaga, yaitu Telaga Pasir Sarangan dan Telaga Ngebel yang keduanya terletak di Jawa timur mempunyai cerita yang erat kaitannya dengan seekor naga, wow bagaimana bisa?
            Tanpa panjang lebar lagi, untuk telaga yang pertama bernama Telaga  Pasir Sarangan yang ada  Kabupaten Magetan, Jawa Timur ini mempunyai cerita yang berkisar dari kehidupan sepasang suami istri Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Keduanya hidup di  sebuah pegunungan yang bernama Gunung Lawu. Hidupnya jauh dari kata glamor, cukuplah bisa dikatakan sederhana.
            Nah, pada suatu hari Kyai Pasir pergi kembali ke rutinasnya di sebuah hutan untuk bercocok tanam di ladangnya. Sebelum menanam, Kyai Pasir terlebih dahulu menebang beberapa pohon besar yang ada di ladangnya satu demi satu. Eh, tiba-tiba Kyai Pasir kaget lantaran mendapati sebutir telur ayam yang terletak di bawah salah sebuah pohon yang mau ditebangnya.
Heranlah dia dibuatnya, telor apakah itu pikirnya? Padahal di sekitarnya tidak ada binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur. Karena masih diselimuti rasa penasaran seraya tak mau meninggalkan telor itu sendiri lantas Kyai Pasir akhirnya mengambil telur itu dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah Kyai Pasir menceritakan kejadian tersebut kepada Nyai Pasir. Mungkin lapar atau gimana, akhirnya kedua suami isteri itu merebus telur temuannya. Setelah masak, separo telur oleh Nyai Pasir diberikan ke suaminya. Kemudian Kyai Pasir berangkat lagi keladang untuk meneruskan pekerjaannya bercocok tananm
Dalam perjalanan kembali ke ladang dan sesampainya disana  badannya tiba-tiba terasa panas, kaku dan sakit sekali. Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi seluruh tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya rebahan ke tanah.
Mereka sangat kebingungan sebab sekujur badannya kaku dan sakitnya bukan main. Dalam keadaan yang serba sakit ini, Kyai Pasir berguling kesana kemari di atas tanah. Eh, ujug-ujug  badannya mendadak berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut, berjampang sangat menakutkan.
Setali tiga keping dengan suaminya, Nyai Pasir yang tinggal di rumah dan juga makan separo dari telur yang direbus tadi mengalami nasib yang sama dengn suaminya itu. Sekujur badannya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Bermaksud minta tolong kepada suamninya, Nyai Pasir lari ke ladang.  Namun bukan suaminya yang dia temui melainkan Kyai Pasir yang telah berubah jadi seekor ular naga yang besar sekali dan menakutkan.
Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin parah, Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan jatuhlah dia ke tanah. Nyai Pasir mangalami nasib yang sama. Tak lama kemudian badannya ikut berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing sangat mengerikan.
Kedua naga itu berguling-guling kesana kemari dan bergeliat-geliat di tanah ladang. Akibat dari aksinya itu menyebabkan tanah tempat kedua naga bergulingan itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam, sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat berguling-guling dan tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam serta luas itu menyemburkan air. Tak beberapa lama kemudian cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga.
Nah, itu cerita Telaga Pasir Sarangan, kini cerita Telaga Ngebel yang sekarang merupakan danau alami yang terletak di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo Kecamatan Ngebel. AlkisahnyaTelaga Ngebel ini  berhubungan juga dengan cerita seekor ular naga bernama “Baru Klinting“.
Seperti ular naga di di Telaga Pasir yeng merupakan jelmaan dari seseorang, ular naga disini juga penjelmaan dari seoarng yang tak lain adalah Patih Kerajaan Bantaran Angin.  Sang patih sedang bermeditasi dengan wujud ular dan secara tak sengaja ada seorang warga yang membawa ular jelmaan tersebut ke desa. 
Sesampainya di desa, mungkin juga karena lapar atau apa ular jelmaan tersebut hendak dijadikan makanan karena ukuran tubuhnya yang besar. Ndilalahya, sebelum sempat dipotong ular tersebut mendadak berubah menjadi seoarang anak kecil yang kemudian mendatangi masyarakat dan memutuskan membuat sayembara. Sang bocah kemudian menancapkan lidi di tanah, versi yang lainnya menyebutkan bahwa yang ditancapkan adalah centong nasi. Namun tidak ada yang berhasil mencabutnya. Bocah ajaib itulah yang berhasil mencabutnya. Dari lubang bekas ditancapkannya lidi atau centong tersebut keluarlah air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk sebuah Telaga dan oleh penduduk desa sekitarnya telaga tersebu diberi nama Telaga Ngebel.. (berbagai sumber)

0 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos