Selasa, 17 April 2012

Asal Muasal Nama-nama Air Terjun di Indonesia

Banyak nama air terjun yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia ini diambil dari cerita-cerita rakyat, peristiwa atau keunikan yang berasal dari daerah tempat terjun itu berada. Nah dibawah ini ada beberapa air terjun di Indonesia yang terinpirasi dari berbagai hal diatas:

Curug Orok (Kuningan)
Kenapa dinamakan air terjun orok?  menurut cerita masyarakat lokal pada tahun 1968 ada seorang wanita muda yang membuang bayinya dari puncak air terjun. Entah apa maksud ibu muda itu membuang jabang bayinya, mungkin dianggapnya anak yang tidak dinginkan atau anak haram, semacam pengorbanan atau yang lainnya entahlah. Tetapi setelah kejadian itu air terjun yang berada di Kuningan, Jawa Barat ini lalu dinamakan Curug Orok. Kalau dilihat dari bentuknya curug ini mempunyai  dua curug dimana yang besar melambangkan keberadaan ibu si bayi dan yang kecil itu melambangkan bayi tersebut.
foto: www.indonesia-lovetravel.blogspot.com
 Air Terjun Cimanganten (Garut)
Sebenarnya banyak versi kenapa  air terjun ini dinamakan Cimanganten. Tapi menurut salah satu pengurus curug cimanganten. Nama cimanganten ini berasal dari kata timbanganten atau menimbang-nimbang golok dengan air. Cimanganten merupakan salah satu nama air tejun yang berada di Desa Padamulya, Kecamatan Pasir Wangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat
foto: www.newswisata.blogspot.com

Air Terjun Kakek Bodo (Tretes Jawa Timur)
Nama Air terjun ini berada di kawasan wisata Tretes di lereng Gunung Welirang di pegunungan Prigen, Jawa Timur, ini rada unik, air terjun Kakek Bodo. Kenapa dinamakan kakek Bodo? nah  menurut cerita penduduk setempat  Kakek Bodo itu dahulunya adalah seorang pembantu rumah tangga di keluarga Belanda. Kemudian demi tujuan sucinya ia rela meninggalkan keluarga Belanda tersebut  dan memilih untuk mensucikan diri meninggalkan masalah keduniawian dengan bertapa. Karena sikapnya lantas keluarga Belanda yang ditinggalkannya itu menyebutnya sebagai kakek yang bodoh (Kakek Bodo).
foto: www.arekgresik.com
Berkat bertapanya sang kakek memiliki kelebihan/kesaktian yang digunakan untuk membantu masyarakat setempat yang meminta pertolongan. Kakek Bodo meninggal di tempat bertapa. Makamnya sampai sekarang dikeramatkan oleh penduduk setempat dan banyak dikunjungi para pejiarah dari berbagai kota besar.

Curug didomba (Kuningan)
Nama Sidomba dari curug Sidomba sendiri berasal dari nama binatang domba atau kambing karena di daerah ini banyak terdapat domba yang memiliki tanduk lebih dari dua. Curug Sidomba merupakan sebuah obyek wisata yang terletak di kaki gunung Ciremai. Berlokasi di desa Peusing kecamatan Jalaksana yang dapat ditempuh sekitar 30 menit dari kota Kuningan Jawa Barat. Nah, katanya ikan Kancra Bodas yang ada di sekitar air terjun itu tidak bisa ditangkap, ketika dikuras ikan-ikan ini menghilang tidak diketemukan. Ada aturan bagi pengunjung untuk tidak bolehkan memberi makan atau memancing ikan di area ini dan juga tidak diperbolehkan untuk berkata yang kasar, menurut penjaganya bakal ada akibatnya.
foto: www.blogspot.com
Air Terjun Sendang Gila (Mataram)
Air Terjun di Mataram ini memiliki cerita dan mitos yang unik. Menurut kepercayaan penduduk sekitar, air terjun ini secara tidak sengaja ditemukan saat memburu singa gila yang saat itu sering mengacau di salah satu kampung setempat. Kemudian saking ketakutannya singa itu lalu masuk hutan, dalam pengejaran itulah masyrakat kemudian menemukan tempat air terjun. Itulah kenapa air terjun ini kemudian dinamakan Sendang Gila.
sumber foto: www.bumi-nusantara.blogspot.com
Air Terjun Coban Rondo (Jawa Timur)
Air terjun yang Kecamatan Pujon di Pegunungan Panderman Kota Batu, Malang, Jawa Timur punya cerita yang rada sedikit menyedihkan perihal asal usul namanya. Alkisah, konon dulu ada sepasang pengantin baru yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro.

           Nah, saat  usia pernikahan mereka mencapai 36 hari, Dewi Anjarwati mengajak suaminya itu untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Mendengar niat tersebut, kedua orang tua Dewi Anjarwati melarangnya karena usia pernikahan mereka yang masih baru Tetapi keduanya bersikeras untuk berangkat.
          Dalam perjalanan mereka dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak jelas asal-usulnya. Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian pun tidak bisa dihindarkan, kepada punokawan yang menyertaimereka Raden Baron Kusuma meminta agar Dewi Anjarwati disembunyikan disuatu tempat yang ada Cobannya (air terjun). Dalam perkelahian itu Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono sama-sama tewas. Kontan kematian suaminya Dewi Anjarwati menjadi janda (dalam bahasa Jawa disebut Rondo). Sejak saat itu air terjun tempat Dewi Anjarwati menunggu suaminya kembali dari perkelahian disebut dengan Coban Rondo.(berbagai sumber)

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...