Selasa, 07 Juli 2015

Wisata Sejarah di Dua Hotel Bersejarah di Semarang

Posted by Harry Prasetyo at 21.27
Sumber foto: wikimapia.org

Jika Anda sedang di Semarang dan kebetulan suka dengan tempat bersejarah. Tak ada salahnya jika meluangkan waktu untuk berkunjung ke beberapa tempat bersejarah yang ada di kota ini. Berbicara soal historisitas, kota yang dijuluki sebagai kota atlas ini tidak hanya dikenal dengan kota tuanya saja melainkan juga beberapa bangunan kuno lainnya.

Sebut saja bangunan hotel Inna Dibya Puri dan Hotel Candi Baru. Dua hotel di semarang ini bisa dikatakan sudah berdiri sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Walaupun waktu telah mengikis guratan di setiap sudut bangunannya, namun keduanya sampai sekarang masih kokoh berdiri. Berikut dua hotel bersejarah di kota Semarang

Hotel Inna Dibya Puri
Semarang zaman dulu berbeda dengan sekarang. Dulu saat Indonesia masib bernama Hindia Belanda, di Semarang hanya ada dua hotel besar, yaitu Hotel Dibya Puri dan Hotel Jansen. Hotel Jansen sudah terkubur oleh waktu, sedang Hotel Dibya Puri masih berdiri sampai sekarang.  Hotel yang dibangun pada tahun 1847 ini dulunya merupakan  sebuah vila berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen dan berubah kemudian menjadi hotel dengan nama Du Paviliun.

Hotel Inna Dibya Puri mengadopsi gaya arsitektur eropa klasik. Seperti nampak dari karakteristik beberapa bagian terlihat pilar-pilar besar yang berfungsi sebagai penyangga. Tentang keindahannya, R.A. Kartini pun pernah menuliskan soal hotel ini dalam Een Gouverneur Generalsdag. RA Kartini yang saat itu bersama saudaranya pergi ke Semarang menuliskan ketakjubannya waktu gapura kehormatan yang bermandikan lampu cahaya di Hotel Du Pavillon itu tampak. Pandangan itu membuatnya teringat pada dongengan yang ajaib.

Keindahan hotel ini pernah sirna oleh konstelasi politik nasional yang terjadi di kota Semarang . Terlebih lagi saat hotel ini menjadi tempat pertempuran antara para pejuang kemerdeaan dan penjajah di tahun 1945. Kala itu, masa revolusi fisik pemuda Semarang terlibat baku tembak dengan para penjajah dalam pertempuran lima hari. Akibat pertempuran lima hari di Semarang, beberapa bagian bangunan seperti dinding dan jendela mengalami kerusakan.  

Pasca perang  tahun 1945 hotel yang berada di Jalan Pemuda  ini berganti-ganti tangan pengelola mulai dari Pemerintah Kota Semarang, Departemen Perhubungan dan Departemen Parawisata. kemudian tahun 1976 diambil alih sepenuhnya oleh Departemen Keuangan yang bermitra dengan PT Natour mengelola hotel ini dan mengganti nama Du Pavillon menjadi Inna Dibya Puri. Setelah berganti nama, hotel masih berfungsi sebagai tempat penginapan. Sampai suatau ketika entah karena apa, hotel ini bangkrut. Hotel mulai terbengkalai dengan meninggalkan 49 kamar, 2 kamar family, 6 kamar puri suite, 17 kamar moderate, 9 kamar standart, 5 kamar ekonomi AC, dan 10 kamar ekonomi non AC.

Hotel Candi Baru
Lebih muda umurnya dibanding hotel diatas, Hotel Candi Baru yang awalnya bernama Hotel Bellevue ini dibangun pada wal abad ke 20, tepatnya di tahun 1919 dan dimiliki oleh Van Demen Wars. Kurang jelas apa yang menimpa sang pemilik saat masa pendudukan berakhir, karena sebuah catatan yang tersimpan di hotel mengatakan bahwa hotel ini kemudian menjadi milik seseorang berkewarganegaraan Tionghoa. Oleh sang pemilik Hotel Bellevue dijual pada perusahaan rokok Gentong Gotri di tahun 1971 dan namanya diubah menjadi Hotel Candi Baru.

Letak hotel dengan gaya arsitektur Rococo dan ornamen ukiran ini berada di kawasan yang saat zaman penjajahan memang direncanakan dibuat layaknya kawasan hunian mewah dengan taman tamannya yang hijau dan asri. Candi Baru, kini dengan jalan utamanya yaitu Jalan Sultan Agung terkenal dengan kawasan elite-nya kota Semarang.  Di kawasan ini juga terdapat fasilitas-fasilitas yang cukup memadai. Mulai dari restoran bergaya Eropa, Asia ataupun tradisional; fasilitas pendidikan dari SD-SMA yang bertaraf internasional; rumah sakit contohnya RS Elizabeth; dan hotel dari melati hingga bintang 5, seperti Grand Candi Hotel. (berbagai sumber)


0 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos