Senin, 28 Mei 2012

Mari Wisata Sejarah ke Hotel-Hotel Tua Indonesia

Posted by Harry Prasetyo at 21.09
Hampir di setiap kota-kota besar di Indonesia berdiri hotel-hotel tua yang umurnya melebihi usia republik ini ada. Yup, dibangun sewaktu kolonialis Belanda masih berkuasa penuh di Nusantara, dibawah ini ada beberapa hotel yang sangat tua di Indonesia yang mungkin bisa Anda kunjungi apabila ingin melihat bentuk rupa peninggalan sejarahnya yang masih tersisa.

1.Hotel Pelangi dan Hotel Splendid Inn
Di kota Malang ada hotel tua yang bernama Hotel Pelangi yang letaknya di Jl. Merdeka Selatan No. 3. Kalau dihitung-hitung dari semenjak hotel ini berdiri, sekarang umurnya kurang lebih sudah 96 tahun lantarannya hotel ini suda ada di Malang dari tahun  1916.


Hotel Pelangi
Nama hotel ini awalnya bukanlah Hotel Pelangi melainkan bernama Hotel Palace entah kenapa bisa berubah nama. Nah, yang menarik dari hotel yang punya 50 kamar ini terletak dari arsitekturnya yang mempunyai ciri khas  yaitu  adanya Menara Kembar yang dahulunya digunakan sebagai menara pengawas. 

Untungnya dibuat kokoh karena sampai saat ini di dalamnya masih terjaga keasliannya, bentuk lantai, plafon dan tegel-tegel dinding bergambar pemandangan negeri kincir angin yang eksotis. 
        
       Masih di Malang,  lanjut lagi ke hotel yang bernama Hotel Splendid Inn. Arsitektur dari gedung yang dibangun pada 1924-1930 ini bergaya Nieuwe Bouwen (berbentuk kubus dan atap lurus) membuat bangunan ini masih kokoh berdiri sampai sekarang. Banyak turis asing dari Belanda yang bernostalgia di tempat ini. Fasilitas yang ada pun relatif sama dengan hotel-hotel berbintang, sehingga sesuai dengan anda yang ingin beristirahat dalam nuansa tempo dulu. 

Hotel Splended Inn
Selain kedua hotel di atas, kota ini juga mempunyai hotel yang tak kalah bersejarahnya yaitu Hotel Graha Cakra yang berada di Jl. Cerme 16. Hotel berbintang tiga ini dahulu adalah bekas gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Malang yang pernah rata dengan tanah karena hancur saat pecah Perang Clash ke-1 pada 1947. Untuk gaya arsitektur dari hotel ini masih menerapkan gaya yang sama dengan Hotel Splendid Inn yaitu gaya Nieuwe Bouwen yang populer pada 1935 karya arsitek Belanda, Ir. Mulder
Gaya Nieuwe Bouwen yang diterapkan dalam dua hotel itu sebenarnya istilah untuk gaya bangunan sesudah tahun 1920-an yang merupakan penganut dari aliran International Style, sebagaimana yang diungkapkan Akihary (1988) dalam bukunya Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1940. Gaya arsitektur ini dibarengi oleh pengaruh gaya arsitektur modern yang sedang trend pada masa itu antara lain,  Amsterdam School, Bauhaus dan De Stilj yang berkembang di Indonesia karena semakin banyak arsitek Belanda beraliran arsitektur modern berpraktek di Indonesia.

2. Hotel Oranje
Dari Malang sekarang kita ke Surabaya disana ada Hotel Oranje atau Hotel Majapahit yang melegenda, mungkin dari anda sudah tahu sebelumnya terlebih lagi apabila anda adalah wong suroboyo. Alkisah, hotel ini didirikan oleh seoarang pedagang yang bernama Lucas Martin Sarkies dari Armenia. 

Hotel ini diarsiteki oleh James Afprey, seorang berkebangsaan Inggris yang membangun hotel ini  pada tahun 1910 dengan menerapkan gaya arsitektur Art Nouveau. Keluarga Sarkies ini memang dikenal berkecimpung di bisnis perhotelan karena sebelum mendirikan hotel ini, keluarga Sarkies sudah mendirikan banyak hotel di  Asia, seperti Hotel Niagara di Lawang, Hotel Eastern and Oriental di Penang (Malaysia), Hotel Strand in Rangoon (Burma) dan Hotel Raffles di Singapura.

Nah, tahun 1911 adalah tahun bersejarah untuk hotel  karena untuk yang kali pertamanya hotel ini dibuka dengan menggunakan nama “Hotel Oranje”. Dalam perkembangannya, di tahun 1931 ada penambahan bangunan di hotel ini yaitu di bagian depan pintu masuk lama, sebagian ruang masuk dibangun dalam gaya Art Deco oleh arsitek Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.


Hotel Oranje
Bagi anda yang pernah menyaksikan salah satu film perang produksi anak negeri dimana salah satu scennya ada orang yang merobek bendera di atap gedung hotel, nah kejadian itu lah yang terjadi di hotel ini.  

Tepatnya pada  tanggal 19 september 1945  terjadi “Insiden Bendera” saat Kolonialis Belanda menaikkan bendera kebangsaannya di menara hotel ini.  Kontan, para nasionalis Indonesia naik pitam dan memanjat ke menara lalu menyobek-nyobek bagian biru dari bendera Belanda yang kemudian berubah menjadi bendera Indonesia.

Nama Hotel Oranje digunakan sampai tahun 1950-an. Waktu itu hotelnya dinasionalisasikan dan nama diganti menjadi Hotel Majapahit. Anda di sana, sempatkanlah untuk melihat kamar bersejarah yaitu kamar yang pernah digunakan oleh aktor Charlie Chaplin. Komedian yang tenar di tahun 30-an ini pernah sempat menginap di hotel ini pada tahun 1936. Kamar tersebut diberi nama Kamar Merdeka dengan nomor kamar 33. 

3. Hotel Surabaya
Itu di kota pahlawan, Bandung tak mau kalah soal hotel bersejarahnya karena di sana ada Hotel yang bernama Hotel Surabaya yang sedikit lebih tua dari Hotel Oranje.  Hotel ini dibangun oleh pengusaha China yang kaya raya asal Surabaya. Adanya hotel ini lantaran untuk menyambut dibangunnya jalur kereta api Jakarta-Bandung yang ditandai dengan berdirinya stasiun Bandung pada tahun 1884.

Untuk bagian hotelnya sendiri  terdiri atas tiga bagian, bagian pertama berada di belakang dan dibangun bergaya neoclassic pada tahun 1886 dengan konsep modern karena banyak menggunakan elemen suluran, tanaman dan kacanya sudah menggunakan colour glass. Sedangkan bagian towernya sendiri dibangun beberapa tahun setelahnya yaitu pada tahun 1900 sampai 1910 dengan menggunakan gaya art nouvo

4.Hotel Sriwijaya
Bagaimana dengan di Ibukota sendiri, jelas Jakarta tak mau ketinggalan karena disini ada Hotel Sriwijaya. Letak hotel ini ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Veteran I, Jakarta Pusat. Dari Stasiun Juanda, hotel ini berada di sisi kanan tak jauh dari Masjid Istiqlal. Tembok hotel ini memanjang hingga ke Jalan Veteran I mendekati kedai es krim Ragusa. 


Hotel Sriwijaya
 Conrad Alexander Willem Cavadino atau CAW Cavadino  yang memulai usaha restoran dan kue di tahun 1863. Tempat usaha ini dibangun persis di pojokan Rijswijk (Jalan Veteran) dan Citadelweg (Jalan Veteran I). Di tahun 1872 Restoran Cavadino berubah menjadi Hotel Cavadino sementara usaha ritelnya dilakukan di sebuah tempat usaha bernama Toko Cavadino yang berada di depan bangunan hotel.

Dari sebuah iklan di tahun 1894, Toko Cavadino disebut sebagai toko yang menyediakan permen, cokelat,  cerutu Havana, Belanda dan Manila hingga bir, anggur, dan minuman beralkohol lainnya. Bahkan, begitu terkenalnya usaha ini sampai-sampai jembatan di depan hotel ini dinamakan Jembatan Cavadino (Cavadino Bridge). Jembatan itu kini berada di samping Hotel Sriwijaya, sejajar dengan pintu masuk ke hotel tersebut.

Dari foto lama yang terpampang di dalam hotel ini dan juga dari foto koleksi KITLV, Leiden, yang ditampilkan oleh Scott Merrillees dalam buku yang berjudul Batavia in Nineteenth Century Photographs letak bangunan hotel dan toko kue terpisah. Posisi bangunan Hotel Cavadino, yang kini jadi Hotel Sriwijaya, terlihat berada di pojokan jalan yang masih sangat sepi dengan dua jalur trem di depannya. Sedangkan Toko Cavadino kini menjadi restoran dan masih menjadi bagian dari Hotel Sriwijaya.

Usaha toko dan hotel berjalan terus hingga akhir abad-19. Merrillees mencatat, sebenarnya CAW Cavadino tak lagi sebagai warga Batavia sejak tahun 1870 meskipun demikian, usahanya tetap menggunakan nama Cavadino & Co. Hotel Cavadino dan bertahan sampai tahun 1898. Namun sejak 1899 hotel itu berubah nama menjadi Hotel du Lion d’Or. Di tahun 1941 hotel itu sudah berubah nama lagi menjadi Park Hotel. Dan diperkirakan sekitar pertengahan tahun 1950-an nama hotel itu berubah menjadi Hotel Sriwijaya.

5. Hotel Inna Dibya Puri dan Hotel Candi Baru
Sekarang kita tinggalkan Jakarta dan pindah ke Semarang, disana telah hadir sebuah hotel yang bernama Hotel Inna DibyaPuri. Soal usianya, hotel ini tak kalah tua dengan hotel-hotel lainnya lantaran Hotel di Semarang ini dibangun tahun 1847. Hotel ini menawarkan sensasi keindahan arsitektur hotel yang pada zaman Penjajahan Belanda bernama Du Paviliun itu. Dan konon di tahun 1945, hotel ini pernah menjadi markas pejuang. Akibat pertempuran lima hari di Semarang, beberapa bagian bangunan, seperti dinding dan jendela mengalami kerusakan.

Hotel Candi Baru
Masih di sekitaran kota Atlas ada Hotel Candi Baru yang dulunya nama hotel ini adalah Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961  nama hotel berubah jadi Hotel Candi Baru.

6. Hotel Salak dan Hotel Pasar Baroe
Puas melihat hotel-hotel tua di kota Atlas, sekarang mari kita tengok hotel apa saja yang ada di kota hujan Bogor. Yang pertama di sana ada Hotel Salak yang usinya sudah sangat tua ratusan tahun yang lewat, hotel ini awalnya bernama Bellevue Dibbets Hotel yang dimiliki oleh Gubernur Hindia Belanda saat itu. Selain untuk tempat menginap dan beristirahat, hotel ini juga diperuntukkan untuk acara pertemuan bisnis dan admistrasi pemerintahan Belanda.

Seiring berjalannya waktu, mungkin Jepang memerlukan tempat yang besar untuk menampung para tentara berikut alat persenjataannya, di zaman penjajahan Jepang fungsi hotel ini berubah fungsi menjadi markas militer Jepang. Nah, baru setelah Jepang angkat kaki dari negeri ini, kepemilikian hotel diserahkan ke pemerintah Indonesia dan namanya pun berubah menjadi Hotel Salak.

Hotel ini teramat special sebagai destinasi penginapan karena event atau meeting berskala internasional pernah dilakukan di Hotel yang letaknya di kaki Gunung Salak ini, misalnya pada tahun 1955 di hotel ini dilangsungkan Pertemuan Persiapan Konferensi Asia Afrika, selain itu pada tahun 1994 ajang pertemuan APEC pun pernah dilakukan di hotel ini.

 Selain Hotel Salak, di Bogor juga ada Hotel Pasar Baroe, dilihat dari namanyanya saja mengingatkan kita kepada salah satu tempat yang ada di Jakarta, namun diantara keduanya tidak ada hubungannya hanya sekedar namanya saja yang sama. Hotel ini tanpa dinyana setua dengan Hotel Salak di atas lantaran dibangun pada tahun 1873.

Hotel Pasar Baroe
Hotel berlantai dua yang berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter2 ini memiliki keunikan arsitektur berupa perpaduan gaya Eropa dengan Tionghoa. Hotel ini pernah menjadi primadona bagi para pelancong kala itu, namun mereka yang mampir mayoritasnya adalah warga timur asing seperti Tionghoa, Arab dan Belanda.  Sekedar catatan pada masa itu di Bogor sendiri terdapata 4 hotel yang bisa menjadi tempat persinggahan para pelancong selain Hotel Bellevue, Hotel Salak, dan Hotel du Chemin (sekarang menjadi kantor polisi Mapolres Bogor).

7. Hotel Ambarrukmo Palace
Lantas bagaimana dengan hotel bersejarah di kota pelajar, Yogyakarta? kota ini juga mempunyai hotel yang bernama Hotel Ambarrukmo Palace. Hotel ini sebenarnya berada di dalam kawasan Pesanggarahan Ambarrukmo yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono V.

Tahun 1895-1897, bangunan dierenovasi  oleh Sultan Hamengkubuwomo VII, sebelum turun tahta tempat ini dijadikan untuk menjamu tamu, akan tetapi setelah turun tahta, tempat ini pun berubah menjadi kediaman Sultan. Nah, dalam perkembangannya setelah Indonesia merdeka, Soekarno presiden pertama RI menggagas pembangunan hotel-hotel berstandar internasional pertama di nusantara, dan salah satunya adalah hotel ini yang diresmikan pada tahun 1966

Saat peresmiannya di tahun 1966, tak pelak hotel tersebut menjadi hotel mewah pertama di Yogyakarta. Hotel tersebut terdiri dari dua sayap yaitu sayap pertama dibangun tahun 1965 dan sayap kedua dibangun tahun 1974. Namun siapa sangka ternyata hotel ini sempat terbengkalai, samapi akhirnya di tahun 2011, jaringan hotel Santika Indonesia mengambil alih dan menghidupkan kembali Hotel Ambarrukmo.

Lantaran pengambilalihan itu lalu nama hotel pun berubah nama menjadi Ambarrukmo Palace Hotel. Area keraton juga direvitalisasi dan disi berbagai kegiatan kesenian. Di dalam hotel ini terdapat mural ukiran batu karya Harijadi di tahun 1962 yang menggambarkan kehidupan rakyat di sekitar Gunung Merapi. Lalu mozaik dinding dari keramik yang diperkirakan dibuat oleh seniman Indonesia Batara Lubis di tahun 1976. (berbagai sumber)

3 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos