Jumat, 04 Mei 2012

Cinta, Setia dan Pulau Kamaro

Posted by Harry Prasetyo at 00.15
Tahukah anda ternyata di Palembang itu ada pulau yang dibentuk oleh cinta? Tidak percaya, namanya Pulau Kamaro,  pulau di delta sungai musi ini menurut legendanya terbentuk lantaran  begitu besarnya cinta sang bakal calon istri kepada pria yang akan dinikahinya.Tak aneh juga di pulau itu ada sebuah makam Putri Palembang yang namanya Siti Fatimah, nah dari makam itulah kisah cinta ini bermula.  
Dahulu kala di masa akhir kerajaan Sri Vijaya  ada seorang pangeran dari Negeri Cina  datang untuk belajar ke Sri Vijaya yang saat itu memang terkenal sebagai kota pendidikan. Memang sudah nasibnya mungkin, di kerajaan ini sang pangeran kepincut dengan seoarang wanita yang bernama Siti Fatimah yang merupakan putri Raja Sri Vijaya. Tanpa banyak cingcong sang pangeran pun meminang sang putri untuk mengikat hubungan cinta mereka.
sumber foto:www.sumselprov.go.id
Akan tetapi Siti Fatimah mengajukan syarat pada Pangeran Tan Bun Ann untuk menyediakan 9 guci berisi emas dan sang pangeran menyanggupinya. Nah, untuk melengkapi pinangannya sang pangeran lalu mengutus seorang perwira pengawal pulang kembali ke Cina untuk meminta cindera mata kepada Ayahnya.
Beberapa lama kemudian perwira pengawal datang kembali ke Sri Vijaya dengan membawa cindera mata dalam kapal beserta hulubalang. Tanpa sepengetahuan perwira pengawal dan hulubalangnya, ternyata saat di Cina, orang tua sang pangeran menyamarkan guci, keramik dan uang cina (coin emas dan perak ) dibawah tumpukan sayur dan buah-buahan. Bukan tanpa maksud tentunya, tetapi sebagai bentuk kejutan kepada calon mantu ketika menerima buah pinangan sang pangeran, selain juga untuk mengurangi risiko perampasan oleh bajak laut di lautan.
Ketika kapal akan berlabuh, sang pangeran itu pun naik dan memeriksa isi kapal untuk meyakinkan barang bawaan dari keluarganya sesuai dengan yang diharapkannya. Ndilalah sang pangeran tidak tahu maksud dan tujuannya emas perak itu disembunyikan,  ternyata yang keliatan olehnya di kapal hanya sayuran, buah-buahan dan hasil pertanian lainnya. Sang Pangeran panik, karena dia berharap orang tuanya mengirimi dia dengan cindera mata untuk menyenangkan sang putri.
Setelah dia memeriksa seiisi kapal sampai putus asa dengan harapan menemukan cindera mata dintara hasil bumi. Kontan saja dia marah bukan kepalang karena malu lantas melempar semua guci kapal ke Sungai Musi. Semua guci dia lempar,  sampailah guci yang ke sembilan namun tak langsung jatuh kesungai hingga guci ituu pecah berantakan. Nah, terlihatlah sebenarnya pada tiap guci itu ada cindera mata yang di kirim Ayahnya.
Merasa menyesal sudah melakukan perbuatannya itu, sang pangeran kemudian menyuruh seluruh hulu balangnya untuk mengambil ke Sungai Musi.  Karena arus bawah Sungai Musi yang deras sebagian besar hulu balangnya tak pernah muncul lagi ke permukaan alias hanyut terbawa arus sungai. Pangeran lalu menyuruh perwira pengawal uuntuk menyusul mengambil kembali guci yang sudah terlanjur dibuang ke sungai, dan seperti hulubalang lainnya, perwira pengawal pun iku hanyut terbawa arus Sungai Musi.
Alih-alih semuanya tak berhasil,  akhirnya sang Pangeran sendiri yang memutuskan untuk nyemplung ke dalam sungai. Namun sayang, nasib sang pangeran sama dengan yang lainnya. Siti Fatimah pun resah dibuatnya, tapi karena didorong oleh rasa cintanya yang begitu kuat terhadap Pangeran. Siti Fatimah (Sang Putri) lalu menyusul untuk terjun ke sungai untuk mencari calon Suaminya. "Jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya." Kata dia sebelum terjun ke sungai. Yup, itulah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Siti Fatimah
Untuk mengenang mereka, dibuatlah makamnya di Pulau Kemaro Konon delta ini (Pulau kemaro) timbul sebagai bukti cinta Putri Siti Fatimah kepada calon suaminya. Dari sinilah kemudian berkembang mitos bahwa apabila ada pasangan yang sedang jatuh cinta datang ke pulau ini maka cinta mereka hanya akan dapat di pisahkan oleh maut.(berbagai sumber)

0 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos