Kamis, 07 Januari 2016

Kisah Pasangan Amerika Mendirikan Hotel di Kuta Tahun 1930-an

Posted by Harry Prasetyo at 21.55
Suatu sore di tahun 1936, seorang Amerika bernama Bob Koke beristirahat dari bangunan hotelnya di pantai Kuta yang sepi. Perlahan dia mulai berjalan  ke arah lautan untuk surfing dengan papan selancar. Tak sulit baginya untuk memulai, karena ilmu selancar telah didapatkannya  saat berada di Hawaii. Kebiasan ini tanpa dinyana mengikuti Bob  saat di Bali.  Bisa dikatakan jarang ada orang Amerika surfing di Kuta waktu itu, tetapi Bob merupakan suatu  pengecualiannya.

Pada peta Belanda waktu itu,  desa nelayan miskin yang sekarang telah menjadi salah satu destinasi kebanggaan Bali ini, dieja dengan nama “Koeta”. Menurut Louise Garret, yang bepergian dengan Bob ke Bali dan kemudian menikah dengannya, sebagian besar wisatawan Barat kala itu mengucapkan Kuta dengan ejaan, “Ko-ee -ta “.

Dalam memoir Louise yang berjudul  Our Hotel in Bali,  pantai kuta merupakan pantai  yang paling indah di dunia. Bob Koke yang juga seorang fotografer muda dari Hollywood, dan istrinya   datang ke Bali di Hindia Belanda pada tahun 1936 saat keduanya bepergian melalui Cina dan Jepang. Bob  memutuskan untuk membuat jalan memutar ke Pulau Bali dengan visi romantisnya “ menemukan sebuah pulau surga”.

Awalnya mereka hanya ingin menghabiskan beberapa minggu saja untuk melukis dan mengambil foto di Bali. Setelah mengambil tur di sekitar pulau seperti di daerah Besakih, Tanah Lot dan sebagainya, mereka berhenti di Pantai Kuta. Keduanya langsung jatuh cinta dengan Pantai Kuta.
Louise dengan ide romantisnya ingin mendirikan sebuah hotel di tepi laut. Bob suatu ketika berkata “ Begitu aku melihat pantai, saya melihat keindahan. Saya langsung tahu kemudian, bahwa pantai ini lebih baik daripada yang saya lihat di Hawaii”. Keduanya lalu menyewakan tanah dari penduduk setempat dan membangun hotel kecil.

Segera setelah beberapa negosiasi, kesepakatan tanah dibuat. Mereka  mulai membangun hotel itu dengan bahan-bahan lokal, seperti  atap alang-alang, bambu dan kayu, dan beberapa bungalow pantai dibangun. Segera setelah hotel mereka jadi, pintu Kuta Beach Hotel dibuka pada kali pertamanya. Tamu dari berbagai macam latar belakang pun  mulai berdatangan. Pada malam hari para tamu disuguhkan tarian Bali dan makan malam di kebun. Hotel ini  satu-satunya yang memiliki saluran telepon  dari hotel sampai ke Denpasar.

Pada siang hari, Bob mengurusi tugas manajemen perhotelan bersama Louise dan kemudian keduanya pergi surfing. Mereka  tak jarang  menawarkan papan untuk penduduk setempat dan para tamu. Bob membawa dengan di papan selancar gaya Hawaii, beberapa bentuknya- pendek, datar dan bulat – sementara yang lainnya panjang dan berat. Tak satu pun dari mereka memiliki kemewahan sirip seperti papan selancar sekarang.

Seiring waktu Kuta Beach Hotel tumbuh dalam popularitas. Namun setelah “hidup dalam mimpi” selama lima tahun, perang  tiba sejalan  dengan berita dari pihak Belanda bahwa Jepang akan menginvasi Indonesia, termasuk Bali. Namun, Bob  menolak untuk percaya hal ini.  Pearl Harbour dibom, tentara mulai berdatangan dan membangun meriam di Pantai Kuta. Atas saran dari Wakil konsul Amerika, Bob diharuskan untuk meninggalkan Bali, Bob kali ini tak bisa menolak.

Setelah PD II, Bob kembali ke Bali dan menemukan hotel yang dibangun bersama oleh istrinya tidak ada yang tersisa. Satu-satunya souvenir kini tak lebih  sebuah  Longboard-nya yang masih ada di Bali dan dapat dilihat dipajang di Discovery Hotel selama Kuta Karnival. Dan ketika Louise meninggal pada tahun 1993, Bob kembali lagi ke Kuta untuk menyebarkan abunya di gelombang pantai Kuta yang kini dicintai oleh wisatawan yang datang ke Bali.

0 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos