Rabu, 24 September 2014

Wisata Ziarah Wali Pitu di Bali

Posted by Harry Prasetyo at 01.17
Minggu di Maret awal tahun ini cuaca di Bedugul sedikit mendung. Namun tak membuat keluarga besar Ida menghentikan langkahnya untuk mendaki bukit Bedugul Kab. Tabanan, Bali. Pendakiannya itu merupakan bagian dari nazar keluarga. Nazar dalam perbendaharaan kata Islam dan Kristen adalah janji seseorang kepada Sang Pencipta untuk melakukan sesuatu hal, jika apa yang ia harapkan terpenuhi atau terkabulkan.

“Abang saya sudah beli mobil, adik saya juga sudah lunas kredit mobilnya“ kata Ida. Hari itu pun mereka akan berdoa di sebuah makam  yang  dipercaya sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di pulau Dewata, Chatib Umar bin Yusuf Al Maghribi. Hanya saja untuk mencapai lokasinya berdoa dibutuhkan tenaga esktra. Pasalnya, lokasi makam cukup tinggi dan berada di tengah cagar alam milik Perhutani Kabupaten Tabanan.  Ida memperkirakan jauhnya mungkin mencapai beberapa kilometer ke atas bukit dari tempat dia berdiri.

Jam masih menunjukkan pukul 10.00 WiB, ditemani udara dingin dan mendungnya langit mereka pun bergegas untuk memulai perjalanan. Satu persatu mereka berjalan kaki meniti tapak jalan. Rombongan keluarganya tidak sendiri karena pada saat yang sama berbarengan pula dengan rombongan peziarah lainnya yang berasal dari Jawa.
Namun tanpa dikira, rutenya ternyata tak semulus yang dibayangkan. Beberapa anggota keluarga pun ada yang terpelesat atau terantuk dahan ranting yang jatuh di jalan kecil itu. Saking jauhnya, mereka pun  beristirahat sejenak sekedar untuk bernafas dan meregangkan otot kaki yang tegang.

Setelah kurang lebih dua jam mendaki bukit Bedugul, berbarengan dengan para peziarah lainnya akhirnya mereka sampai ke lokasi makam. Nampak makam berwujud empat batu nisan untuk dua makam yang berukuran sekitar 4×4 meter yang ditutupi oleh kain seperti karpet Sajadah.  “Siapapun boleh melihat makam itu dari dekat dan membuka tutupnya“ kata Ida saat bercerita kepada penulis.

 Tanpa ada komando, beberapa keluarganya  langsung memanjatkan doa dan sebagiannya beristirahat  di sebuah fasilitas yang khusus dibangun untuk para peziarah yang datang dari jauh. Tak lebih dari sejam di lokasi makam, mereka kemudian turun melewati jalur yang sama saat. “capeknya bukan main kaki mau patah rasanya“ kata Ida.

Sejarah Wali Pitu di Bali
Makam diatas bukit Bedugul yang keluarganya kunjungi itu merupakan salah satu makam dari Wali Pitu atau Wali Tujuh di Bali.  Mengutip buku Perjuangan Wali Pitu dan Wali Enam di Bali, Wali Pitu sendiri merupakan tokoh penyebar agama Islam d Pulau Bali. Nama Wali Pitu mulai dikenal sekitar tahun 1990-an.

Waktu itu ada seorang pemuka agama, Kiai Thoyyib Zen Arifin yang membukukan ke publik keberadaan Wali Pitu melalui penulisan buku yang berjudul Manaqib Wai Pitu di Bali dan Raja-raja Islam di Nusantara. Sedangkan objek Wali Pitu itu sendiri pertama diketemukan oleh KH Noor Hadi Pendiri sekaligus pengasuh Ponpes AlQuran Raudlotul Hufadz yang berlokasi di Kediri, Tabanan tahun 1979.

Pemberian gelar nama Wali Pitu dilakukan oleh dua orang ulama yang berasal dari pulau Jawa. Setelah melakukan pene,itian sebanyak tjuh makam selama beberapa tahun. Sebagian besar umat Islam di Bali dan Jawamenyetujui nama Wali Pitu. Meskipun jumlahnya yang dimakamnya lebih dari tujuh.

Wali Pitu di pulau Bali antara lain RA Siti Khotijah, Pengeran Mas Sepuh, Chatib Umar bin Yusuf Al Magribi, Habib Ali bin Abu Bakar, Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi, Habib Ali Bin Zaenal Abidin dan Abdul Qodir Muhammad. Ketujuh makam wali yang menyebar di beberapa daerah di Bali ini hampir tiap hari mendapat kunjungan wisatawan dari kalangan muslim. Para peziarah kebanyakan berkunjung pada bulan Syawal atau Maulud.

Untuk makam di atas bukit Bedugul sebenarnya sudah ada lama namun menurut keterangan dari beberapa tokoh masyarakat setempat baru diketemukan sekitar 50 tahun yang lalu oleh seorang yang sedang mencari kayu bakar. Kemudian diumumkan kepada masyarakat kalau di bukit itu ada sebuah makam Wali Pitu. Pada setiap safar pada hari rabu terakhir (Jawa: rabu wekasan) masyarakat muslim setempat berbondong-bondong naik ke bukit unutk berziarah. Hal ini untuk memperingati wafatnya dengan mengadakan doa bersama. Dulu makam tersebut tidak ada yang merawat namun kini sudah terawat dengan baik. Walaupun berada di areal lahan Perhutani, kebebasan peziarah tetap ada.(berbagai sumber) 

0 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos