Sabtu, 21 Juni 2014

Yuk, Jadi Anak Kecil Lagi di Museum Layang-layang

Posted by Harry Prasetyo at 20.20
Hujan cukup deras membasahi  wilayah Jakarta selatan di Sabtu (19/4). Tetapi derasnya hujan tak membuat Anton  urung niat menghabiskan waktu bersama keluarganya untuk bercengkarama di Museum Layang-layang. Mereka terlihat asik foto-foto dengan latar belakang layang-layang besar yang persis berada di belakangnya. “ lumayan murah meriah, buat hiburan lihat macem-macem layang-layang sama anak-anak daripada pergi liburan keluar kota, macet “ kata Anton.

Museum Layang-layang yang Anton beserta keluarganya kunjungi merupakan satu-satunya museum di Jakarta bahkan di Indonesia yang mengoleksi khusus hanya layang-layang saja. Layang-layang mempunyai historisitas riwayat yang panjang. Menurut catatan sejarah yang ada  permainan layang-layang ini sudah tercatat dalam dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi. Kemudian penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang menimbulkan spekulasi mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan Nusantara.


Di Indonesia sendiri banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) (abad ke-17) yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan. 

Museum yang berada di Jl Haji Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan ini didirikan tak lepas dari seorang yang bernama Endang Ernawati. Endang merupakan pakar kecantikan yang kebetulan menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985. Di tahun 1985, Endang membentuk Meindo Kites & Galery yang bergerak di bidang layang-layang. Berbagai festival layang-layang dalam dan luar negeri telah diikutinya. Dia pun berhasil meraih juara dalam berbagai kejuaran lomba layang-layang. Nah, karena rasa cinta terhadap layang-layang itulah, Endang akhirnya mendirikan museum layang –layang ini pada 21 Maret 2003 yang saat ini sudah berdiri hampir 14 tahun.

Beragam Koleksi Dari Penjuru Negeri dan Dunia
“museum didirikan mempunyai fungsi salah satunya untuk melestarikan budaya layang-layang tradisional yang unik dari berbagai wilayah di Indonesia, selain juga sebagai sarana edukasi bagi anak-anak yang ingin mengetahui lebih lanjut soal layang-layang ” kata Asep Irawan (pemandu museum dan pengrajin layang-layang) kepada penulis. Layang-layang yang dikoleksi museum ini tak hanya asli Indonesia saja, Asep mengatakan museum yang menempati bangunan rumah model Jawa ini juga mengoleksi layang-layang dari berbagai negara, sebut saja dari China, Jepang, Belanda, Vietnam dan beberapa negara lainnya.

“semua koleksi didatangkan dari tempatnya yang berasal, jadi tidak dibuat di museum ini layang-layangnya” kata Asep. Tak kurang  ratusan koleksi layang-layang mulai dari layang-layang miniatur yang berukuran dua centimeter hingga yang berukuran besar. “ tidak semua layang-layang yang museum ini miliki dipamerkan disini, ada kalanya layang-layang koleksi disini diganti dengan berkala” bilang Asep.

Bahkan museum layang-layang memiliki beberapa layang-layang berukuran besar. Asep mengatakan layang-layang yang ukurannya besar itu banyak digunakan untukn festival-festival. Dan yang terbesar di Indonesia seperti layang-layang Megaray yang berukuran 9 X 26 meter. “ seperti layang-layang yang bentuknya seperti Capung di tahun 2012 juara ketiga layang-layang Internasional yang diadakan di Ancol” kata Asep

Selain itu, Asep menambahkan, pengunjung museum ini tidak hanya datang dari kota Jakarta saja, melainkan luar daerah bahkan luar negeri” ada juga yanhg datang dari Singapura, Malaysia, Korea dan negara lainnya” tutur pria yang juga pintar membuat bermacam-macam layang-layang ini. Nah, selain bisa melihat layang-layang yang berukuran macam-macam, museum ini juga menyajikan suguhan lainnya misalnya   nonton audio, masuk dalam museum, membuat layang-layang-layang. Dan tentu semunya itu dapat dilakukan dengan harga yang terjangkau, satu paket dan cukup merogoh kocek Rp.10.000 saja. Tertarik berkunjung?  

Dipublish di www.kabarinews.com

0 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos