Jumat, 19 Juli 2013

Cerita Ramadhan dari Yeh Sumbul

Posted by Harry Prasetyo at 01.11 0 comments Links to this post


Menjadi suatu pengalaman yang menarik  jika kita melakukan ibadah puasa di tempat yang sama sekali baru. Baru dalam budaya, lingkungan sosial maupun kebiasaan masyarakat setempat yang akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang tak mungkin terlupakan.

Awal bulan Juli ini  tepat satu hari sebelum umat muslim se-dunia menunaikan ibadah puasa, saya berkunjung ke rumah kerabat dekat di sebuah desa yang bernama Desa Yeh Sumbul yang terletak di kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali.

Perjalanan kurang lebih memakan waktu dua jam dari Denpasar melalui jalan yang menghubungkan Gilimanuk-Denpasar. Sepanjang Jalan lancar tak ada macet, sepertinya soal macet hanya milik Jakarta atau pantura di saat menjelang hari raya, dan tidak perjalanan saya saat itu. Berangkat dengan menaiki mobil Avansa sewaan yang kebetulan drivernya adalah teman temannya saya. Saya berangkat sekitar pukul 12 siang dan sampai di Desa Yeh Sumbul sekitar pukul setengah tiga.

Sesampainya di sana saya berencana  menginap selama satu hari di rumah teman yang lokasinya tak jauh dari Masjid Baitul Al-Alimin.  Sejauh mata memandang sekilas desa ini tak jauh berbeda dengan desa-desa lain yang pernah saya kunjungi entah di Jawa atau di tempat lain. Namun yang berbeda, desa ini adalah desa muslim yang berada di Bali yang notabene mayoritas penduduknya adalah beragama Hindu. Jumlahnya tentu bisa dihitung dengan jari. Desa Yeh Sumbul ini merupakan salah satu desa muslim yang ada di Bali selain Kampung Muslim Pegayaman, Kampung Muslim Keramas, Kampung Mulim Kepaon, dan yang lainnya.

Desa Yeh Sumbul
Masjid Baitul Alimin, Yeh Sumbul

Nah, penasaran juga bagaimana sih desa muslim ini sejarahnya? Untungnya di rumah itu ada seorang tua yang kebetulan tinggal bersama teman saya. Ditemani rokok kretek plus segelas kopi hitam di ruang tamu rumahnya,  ia bercerita seingatnya mengenai sejarah dari desanya. Dengan logat Bali yang kental ia berkata desa ini sudah ada sejak lama dan dibangun oleh orang-orang melayu islam. Dulu namanya pun bukan Yeh Sumbul melainkan Desa Sumbul. Oleh karena apa dia sedikit lupa, desa Air Sumbul berubah kemudian menjadi Yeh Sumbul sampai sekarang.

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos