Jumat, 27 Desember 2013

Ini Dia Tiga Warung Bakso Legendaris di Malang

Posted by Harry Prasetyo at 01.08 0 comments Links to this post


Pasti Anda semua pernah mendengar atau bahkan pernah merasakan bakso Malang. Menemukannya memang gampang-gampang susah karena tidak semua pedagang bakso Malang lewat atau mangkal di tempat Anda tinggal. Nah, terlepas dari pedagang bakso Malang yang keberadaannya gampang-gampang susah itu, Kota Malang sudah umum dikenal dengan makanan Baksonya. Bakso pun menjadi kuliner yang populer di Kota ini, berikut ini tiga tempat jual bakso yang wajib Anda sambangi saat berada di Malang.

Bakso President 

Bakso President berdiri hampir empat dekade di kota Malang. Bisa dikatakan Bakso President merupakan salah satu menu bakso tertua dan terpopuler di Malang. Menu utama di Bakso President yaitu baso halus, baso urat, dan baso besar. Baso kenyal berbahan daging sapi asli disajikan dengan kuah yang gurih dan sedap dengan aroma yang menggugah selera. Selain itu juga tersedia berbagai macam lauk tambahan, seperti jerohan, ati, juga bermacam gorengan sebagai pelengkap menu. Suasana dan Nikmatnya menu yang disajikan memikat banyak masyarakat termasuk dari kalangan selebritis. Sajian menu istimewa dan suguhan suasana pinggiran kota memberikan sensasi tersendiri menikmati bakso di Kota Malang.

Selasa, 24 September 2013

5 Fakta Unik Jembatan Tol Bali Mandara

Posted by Harry Prasetyo at 17.39 0 comments Links to this post
Tol Bali Mandara baru saja diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin, (23/9). Tol ini merupakan satu-satunya tol yang ada di Bali yang menghubungkan antara Bandara Ngurah Rai di Nusa Dua dengan Pelabuhan Benoa Denpasar. Dikebut pembangunannya alih-alih nanti akan digunakan sebagai akses jalan bagi para peserta KTT APEC awal Oktober 2013, tol ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh tol-tol lain yang pernah dibangun di Indonesia.
Tol Bali Mandara


Berikut ini lima keunikan yang dimiliki Tol Bali Mandara.

Pertama, tol ini dikerjakan dalam waktu singkat hanya 14 bulan dan dikerjakan oleh anak bangsa. Selain itu tol ini merupakan tol kedua yang berdiri di atas laut. Bukan yang pertama karena  sebelumnya sudah ada tol atas laut yakni Suramadu.Panjang jembatan tol di Bali ini hampir sama dengan Penang Bridge di Malaysia yang panjangnya mencapai 13,5 km, atau Union Bridge sepanjang 12,9 km di Kanada. Tol Bali Mandara menggunakan pondasi tiang pancang sebanyak 14 ribu titik, yang membutuhkan tiang pancang sebanyak 35 ribu batang, kalau diukur panjangnya sekitar 325 ribu meter.

Kedua, Motor boleh masuk. Jika bersepeda motor di tol-tol lain  merupakan pelanggaran lalu lintas maka lain halnya jika Anda berkendara motor di tol ini. Di sini Anda dapat bebas naik motor tanpa takut polisi menilang karena Tol Bali Mandara ada jalur khusus sepeda motor di sayap kiri dan kanan jalan tol itu.

Jumat, 19 Juli 2013

Cerita Ramadhan dari Yeh Sumbul

Posted by Harry Prasetyo at 01.11 0 comments Links to this post


Menjadi suatu pengalaman yang menarik  jika kita melakukan ibadah puasa di tempat yang sama sekali baru. Baru dalam budaya, lingkungan sosial maupun kebiasaan masyarakat setempat yang akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang tak mungkin terlupakan.

Awal bulan Juli ini  tepat satu hari sebelum umat muslim se-dunia menunaikan ibadah puasa, saya berkunjung ke rumah kerabat dekat di sebuah desa yang bernama Desa Yeh Sumbul yang terletak di kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali.

Perjalanan kurang lebih memakan waktu dua jam dari Denpasar melalui jalan yang menghubungkan Gilimanuk-Denpasar. Sepanjang Jalan lancar tak ada macet, sepertinya soal macet hanya milik Jakarta atau pantura di saat menjelang hari raya, dan tidak perjalanan saya saat itu. Berangkat dengan menaiki mobil Avansa sewaan yang kebetulan drivernya adalah teman temannya saya. Saya berangkat sekitar pukul 12 siang dan sampai di Desa Yeh Sumbul sekitar pukul setengah tiga.

Sesampainya di sana saya berencana  menginap selama satu hari di rumah teman yang lokasinya tak jauh dari Masjid Baitul Al-Alimin.  Sejauh mata memandang sekilas desa ini tak jauh berbeda dengan desa-desa lain yang pernah saya kunjungi entah di Jawa atau di tempat lain. Namun yang berbeda, desa ini adalah desa muslim yang berada di Bali yang notabene mayoritas penduduknya adalah beragama Hindu. Jumlahnya tentu bisa dihitung dengan jari. Desa Yeh Sumbul ini merupakan salah satu desa muslim yang ada di Bali selain Kampung Muslim Pegayaman, Kampung Muslim Keramas, Kampung Mulim Kepaon, dan yang lainnya.

Desa Yeh Sumbul
Masjid Baitul Alimin, Yeh Sumbul

Nah, penasaran juga bagaimana sih desa muslim ini sejarahnya? Untungnya di rumah itu ada seorang tua yang kebetulan tinggal bersama teman saya. Ditemani rokok kretek plus segelas kopi hitam di ruang tamu rumahnya,  ia bercerita seingatnya mengenai sejarah dari desanya. Dengan logat Bali yang kental ia berkata desa ini sudah ada sejak lama dan dibangun oleh orang-orang melayu islam. Dulu namanya pun bukan Yeh Sumbul melainkan Desa Sumbul. Oleh karena apa dia sedikit lupa, desa Air Sumbul berubah kemudian menjadi Yeh Sumbul sampai sekarang.

Minggu, 16 Juni 2013

Sejarah Pantai Kuta Bali

Posted by Harry Prasetyo at 20.53 5 comments Links to this post
Pergi ke Bali, jika tidak ke pantai kuta sepertinya ada yang kurang. Yup, sangat kurang bisa dikatakan seperti itu, pasalnya pantai kuta merupakan salah satu objek wisata unggulan di pulau dewata. Lihat saja bagi Anda yang pernah ke pantai ini, jarang sekali pantai ini terlihat sepi pengunjung. Sepinya Pantai Kuta hanya dapat dirasakan jika Bali sedang ada Perayaan Nyepi dan itu pun hanya dirayakan sekali dalam setahun. Selebihnya pantai kuta selalu didatangi oleh wisatawan domestic dan mancanegara. Nah, yang menjadi pertanyaan sejak kapan pantai kuta ini mulai ramai oleh para pengunjung dan  bagaimana sejarah dari Pantai Kuta Bali?
Pantai Kuta

Dulunya Pelabuhan Dagang
Pantai Kuta Bali sebelum menjadi objek wisata seperti yang kita kenal sekarang, awalnya merupakan salah satu pelabuhan dagang di Pulau Bali yang menjadi pusat pemasaran hasil-hasil bumi masyarakat pedalaman dengan para pembeli dari luar. Dibukanya Pantai Kuta sebagai tempat berlabuh tak lepas dari peran Patih Gajahmada.

Patih Gajahmada dan pasukannya dari kerajaan Majapahit pada sekitar abad-14 berlabuh di bagian selatan pantai kuta yang kini lebih di kenal dengan nama Tuban. Lantaran  daerah ini cocok untuk tempat pelabuhan kapal, maka pelan-pelan kawasan ini berubah menjadi kota pelabuhan kecil, dimana para warga pun menyebut kawasan ini dengan nama Pantai Perahu. Pun pada  abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang asal Denmark, menetap dan mendirikan markas dagang di Pantai Kuta. Menurut Horst Henry Geerken, dalam Kesaksian Seorang Jerman di Indonesia 1963-1981, dari sini dia menjalankanperdagangan yang sukses dengan pulau-pulau tetangga dan kapten –kapten kapal nelayan Eropa. Melalui keterampilannya bernegosiasi, Mads Lange menjadi perantara perdagangan antara raja-raja di Bali dengan Belanda. Selain urusan perdagangan, Mads Lange juga melakukan upaya arbitrase antara Belanda dan kerajaan-kerajaan Bali untuk menghindari konflik militer.

Jumat, 14 Juni 2013

Mangrove Bali Riwayatmu kini

Posted by Harry Prasetyo at 01.42 0 comments Links to this post
Bali sabtu di awal mei 2013 ini panasnya bukan kepalang siang itu. Rasanya matahari bersinar sangat terang sampai ubun-ubun kepala. Jarum kilometer motor menunjukkan kecepatan tak lebih dari 80 Km/jam. Laju motor pun dikebut walau tidaklah terlalu kencang. Maklum lah helm di kepala tak sanggup rasanya menahan panasnya Bali.

Saat itu melaju di Jalan utama yang menghubungkan titik-titik pusat wisata antara Kuta, Legian, Nusa Dua, sampai ke Jimbaran dan Uluwatu. Di sekitar jalan utama itu kata beberapa laman wisata dan petunjuk dari seorang teman ada tempat wisata. Sepertinya asik jika mampir, alih-alih menemukan tempat berteduh yang bisa menyejukkan panasnya kepala ini sambil meneguk minuman dingin.

Arah motor pun langsung diarahkan  tempat yang bernama Kawasan Hutan Mangrove Bali. Letaknya cukup tersembunyi, sepertinya tempat wisata ini kalah pamor dibanding tempat wisata glamor lainnya di Bali seperti Pantai Kuta, Pantai Sanur, Legian dan yang lainnya. Perlahan masuk ke dalam sejauh mata melihat, kanan kiri hanya ada pohon-pohon manggrove. Sampai pintu gerbang dalam hati bertanya berapa ya kira-kira tiket masuknya, apakah semahal tiket masuk Bali Zoo atau Museum Kerang?.

Eng ing eng, ternyata tak satupun lembar rupiah keluar dari kantong alias gratis. Memang terlihat ada pos penjagaan sebelum masuk ke halaman parkir, namun di kaca pos itu  terpampang wisata hutan manggrove yang merupakan hasil kerjasama pemerintah dengan Japan International Cooperation Agency sudah tutup terhitung Januari 2013.
Mangove Bali

Senin, 10 Juni 2013

Tiga Tugu Khastulistiwa ada di Tiga Tempat Ini

Posted by Harry Prasetyo at 02.32 0 comments Links to this post
Berbicara soal Garis Katulistiwa, garis ini hanya melintasi sedikit kontinen, dari sedikit kontinen  di Indonesia hanya di Pulau Batu dan Lingga di Sumatera, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Halmahera dan Pulau Gebe di Papua.  Dari sedikit pulau tadi hanya beberapa yang menandai garis tersebut dengan sebuah landmark. Nah, Anda tahu Tugu Khatulistiwa sebagai landmarknya? Jika sudah tahu pastilah Anda akan menjawab tugu ini hanya ada berada di Pontianak. Anda tentu benar, namun tahukah Anda ternyata ada tiga Tugu Khatulistiwa di tiga wilayah di Indonesia. Di mana sajakah itu? 

Tugu Khatulistiwa Pontianak
Tugu Khatulistiwa di Pontianak ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak. Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung. 

Senin, 06 Mei 2013

Dua Museum Ogoh-ogoh Bali yang wajib Anda Kunjungi

Posted by Harry Prasetyo at 23.03 0 comments Links to this post
Jika Anda penasaran dengan bentuk ogoh-ogoh Bali ? Rasanya tidak cukup apabila Anda hanya melihatnya dari foto-foto yang banyak terpampang di laman-laman Internet. Sejatinya Anda harus berada di Bali untuk melihatnya secara langsung, namun bagaimana jika Anda sedang disana tetapi di saat bersamaan di Bali tidak sedang merayakan upacara nyepi. Ogoh-ogoh seperti yang diketahui merupakan patung raksasa yang diarak pada upacara Pengrupukan. Upacara Pengrupukan ini dilangsungkan 1 hari sebelum Perayaan Nyepi. Nah, Anda tak perlu berkecil hati karena solusinya cukup mudah, karena ada dua museum ogoh-ogoh di Bali yang dapat Anda kunjungi. Berikut penjelasannya.

Museum Ogoh-ogoh Museum Manusa Yadnya

Museum Ogoh-ogoh

Museum ogoh-ogoh ini terletak di Jalan Ayodhya, lokasinya berada di dalam kompleks Museum Manusa Yadnya. Jadi jika Anda ingin ke museum ini, terlebih dahulu Anda harus berada di kompleks ini. Lantaran berada di dalam kompleks, untuk menemukan museum ini sangatlah mudah. Di tempat ini Anda dapat melihat sekitar 20 buah ogoh-ogoh dari daerah Bali. Ada beberapa ogoh-ogoh baik berupa raksasa maupun para dewa dan bhuta kala dengan tinggi rata2 3 - 5 meter. Museum ini juga menyajikan cerita-cerita menarik tiap ogoh ogoh dengan nuansa magis dan Anda akan mendapat pengalaman menarik saat mengunjungi museum ini.

Ada Pantai Jerman di Bali

Posted by Harry Prasetyo at 19.13 2 comments Links to this post
Bali memang terkenal dengan pantai-pantainya yang cantik dan indah. Sebut saja Pantai Kuta, Pantai Sanur, Pantai Dreamland, Pantai Pandawa atau pantai lainnya. Namun diantara pantai-pantai itu ada satu pantai di Bali yang memiliki nama yang unik seperti nama sebuah negara di Eropa, yaitu Pantai Jerman. Pantai ini terletak di terletak di Jl Wanasegara, Tuban, Kuta selatan dan lokasinya tidak jauh dari Bandara Ngurah Rai.

Dulunya Pelabuhan Kuta
Pantai Jerman dulunya adalah pelabuhan Kuta di mana para pedagang dari luar Bali berlabuh dengan membawa barang barang dagangan untuk bertransaksi pada waktu itu. Menurut catatan Pierre Dubois dalam kedudukannya sebagai pejabat Pemerintah Belanda, yang diizinkan untuk tinggal di daerah Kuta. Pierre Dubois, Wakil Pemerintahan Hindia Belanda yang tinggal di Kuta pada tahun 1827. Pelabuhan Kuta merupakan pelabuhan yang terpenting di Bali Selatan waktu itu.

Pada Abad 19, Mads Lange seorang syahbandar asal Denmark juga menetap dan mendirikan markas dagang di Kuta, Selama tinggal di Bali dia sering menjadi perantara antara Raja-Raja di Bali dan Belanda. Mads Longe meninggal secara misterius. Kuburan Mads Longe terletak disebelah konco di pinggir sungai tersebut.

Selasa, 19 Maret 2013

Nyepi yang tidak Sepi

Posted by Harry Prasetyo at 02.34 0 comments Links to this post

Denpasar hari itu berbeda dengan Denpasar pada hari biasanya. Tak ada lalu lalang kendaraan, tak ada aktivitas warga, Pantai Kuta yang biasanya disesaki oleh manusia nampak lenggang yang ada hanya suara debur ombak yang berkejaran. Siaran stasiun televisi dan radio pun tidak melakukan siaran selama 24 jam.

Benar-benar sepi, karena hari itu tepat di saat umat Hindu di Bali melakukan Catur Brata Penyepian, yakni tidak boleh menyalakan lampu (Amati Geni), tidak boleh bepergian (Amati Lelungan), tidak boleh bekerja (Amati Karya), dan tidak boleh bersenang-senang (Amati Lelanguan). Denpasar pun tak ayal  berubah drastis seperti halnya kota mati di saat perayaan Nyepi.

Namun di saat bersamaan nun jauh beratus kilometer dari pusat kota, ada pemandangan yang tidak biasa di sebuah perkampungan muslim di wilayah Jembrana, tepatnya di Desa Yeh Sumbul. Masyarakatnya pada saat perayaan nyepi malah tumpah ruah di jalanan. “Denpasar sepi tapi disini kayak pasar heheheh” celoteh salah satu warga di pinggiran jalan kepada penulis beberapa waktu yang lalu.

Rabu, 13 Maret 2013

Mari Singgahi 3 Restauran Jadul di Bandung

Posted by Harry Prasetyo at 00.13 0 comments Links to this post

Pada saat akhir pekan atau masa liburan, tak jarang warga ibukota berduyun-duyun datang ke kota kembang. Yup, tentu mereka datang dengan segudang rencana, mulai dari sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga, berbelanja busana yang memang bandung adalah pusatnya fashion, atau berwisata kuliner.

Bagi Anda yang suka memanjakan lidah ada baiknya jika singgah ke tiga restauran di bawah ini. Apa pasal? Nah, ketiga restauran ini termasuk dalam restauran bersejarah lantaran umur berdirinya restauran itu mungkin lebih tua dari Anda. Sensasinya yang cukup terasa bukan? icip-icip sambil menikmati nuansa zaman dulu

1.Braga Permai
Di Restauran ini Anda dapat menikmati makanan yang dibuat dengan resep-resep peninggalan Belanda sambil menikmati suasana Bandung tempo dulu. Restauran ini  sudah berdiri sejak tahun 1918 dan berlokasi di hook sisi timur Simpang Bragaweg (Bahasa Belanda: Jalan Braga). Kemudian pada tahun 1923, restoran milik L. van Bogerijen ini pindah ke tengah-tengah Bragaweg, di lokasi Braga Permai saat ini. Dulunya bernama Maison Bogerijen seperti nama yang terpampang di atas bangunannnya. Dengan mengadopsi gaya arsitektural Eropa tradisional, bangunannya terbilang baru dan modern di masanya.
sumber foto:www.goindonesia.com 

Senin, 11 Februari 2013

Memadu Cinta di 3 Bukit Cinta

Posted by Harry Prasetyo at 00.44 2 comments Links to this post

Ada yang sama dengan nama ke empat bukit dibawah ini yaitu, di akhir katanya terdapat kata cinta. Dari  bukit cinta di kota Atlas, Aceh, sampai ke Labuan Bajo. Namun yang menjadi pertanyaan kenapa bukit di empat tempat tersebut dinamakan bukit cinta? Sepertinya tidak ada yang tahu alias masih misteri. Atau mungkin bukit-bukit itu sering  dikunjungi oleh muda-mudi yang sedang kasmaran, makanya dinamakan bukit cinta.  Dan mungkin benar saja, secara wilayah perbukitan yang rindang ditambah pemandangan yang indah adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk berduaan memadu kasih. 

Bukit Cinta Semarang
Bukit Cinta di Semarang ini berada di Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa tengah. Letaknya berada di tepian Danau Rawa Pening dan sangat terjangkau jika Anda berada di wilayah Ambarawa, Magelang atau Semarang cukup arahkan saja kemudi anda ke wilayah Banyubiru

Sebelum masuk Bukit Cinta Anda terlebih dahulu harus merogoh koceng yang cukup murah. Yup tak lebih dari Rp.5000 saja, Anda pun sudah bisa masuk ke wilayah Bukit Cinta.  Dari pintu masuk lebih dalam, dari kejauhan Anda dapat melihat patung naga raksasa yang terletak di bawah bukit. Jika berjalan ke dalam patung naga, Anda akan masuk ke ruangan yang menyimpan koleksi aneka reptil dan ikan yang di dalam aquarium.

Minggu, 03 Februari 2013

Ngopi-ngopi di Kedai Kopi Es Tak Kie

Posted by Harry Prasetyo at 18.21 0 comments Links to this post
Hampir semua orang pernah minum kopi, tetapi bagaimana jika Anda ingin minum kopi di sebuah kedai kopi legendaris dengan harga yang cukup terjangkau. Di Jakarta ada sebuah kedai kopi tua yang bernama Kedai Kopi Es Tak Kie yang telah berdiri puluhan tahun yang lalu dengan menu andalan es kopi. Harganya pun  hanyaRp 10.000 dan es kopi susunya dibanderol Rp 11.000 per gelas, cukup terjangkau bukan?

Nah, Kedai Kopi Es Tak Ki ini berada di kawasan Petak Sembilan, Glodok, tepatnya di Gg Gloria, RT 02/06, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Awalnya didirikan pada tahun 1927 oleh Liong Kwie Tjong dari China Daratan, kedai kopi Tak Kie tadinya hanya sebuah gerobak dorong yang berdiri di sekitar pasar Glodok. Kopi yang dipasok pun berasal dari pasar di sekitar Glodok. Zaman itu, kualitas kopi masih terjaga sehingga kopi Tak Kei diminati para penikmat kopi dari berbagai kalangan.

Kamis, 31 Januari 2013

Selasar Sunaryo Art Space

Posted by Harry Prasetyo at 22.29 0 comments Links to this post

Jika Anda ke Bandung, mau mencari  hal-hal yang berbau seni itu cukup mudah caranya. Mengapa? karena Bandung ini memang banyak tempat-tempat dimana Anda bisa dimanjakan oleh karya-karya seni yang bermutu dan berkulitas, salah satunya dengan berkunjung ker rumah Seni.

Nah,  rumah seni yang cocok Anda kunjungi saat Bandung, yaitu Selasar Sunaryo Art Space (SAAS). SAAS ini didirikan oleh Sunaryo dan dibuka secara resmi pada tahun 1998. Di sinilah Sunaryo dengan penuh dedikasi bersama  AgungHujatnikajenong, dibantu dewan pertimbangan kuratorial Jim Supangkat, Yuswadi Salya, Saini KM, Asmudjo Jono Trianto, Rizki A Jaelani, Bambang Sugiharto mewadahi geliat seni kontemporer di negeri ini. Mereka inilah “tulang punggung” dan penimbang berbagai pagelaran seni kontemporer di SSAS.

Telur Maulid, Makna dan Tradisi

Posted by Harry Prasetyo at 00.27 0 comments Links to this post

Maulid akan tiba, salah seorang teman dekat yang hidup di salah satu desa Muslim di Bali pernah bercerita, betapa sibuknya dia saat perayaan Maulid Nabi Muhammad yang jatuh tepat di bulan Januari. Pasalnya, masjid yang berada persis di samping rumahnya menjadi pusat berkumpulnya warga sekitar. Tak hanya itu, sebagai warga desa yang partisipatif, ia dan keluarganya seraya membantu segala macam kebutuhan yang diperlukan dalam prosesi keagamaan yang berlangsung hanya sehari itu.

Sebut saja mulai dari persiapan membeli telor dalam jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit, merebus telurnya, sampai menghias Telur Maulid dengan ornamen hiasan. Ia dan keluarga senantiasa sibuk seraya mengikuti garis takdir yang tak bisa terelakkan di saat Maulidan tiba di desanya. Tak peduli kocek semakin menipis lantaran Maulid jatuh di tanggal tua“ yah mau gimana lagi sudah tradisi ehehehhe” kata Risma.
 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos