Selasa, 07 Agustus 2012

Tiga Bedug Ukuran Jumbo di Indonesia

Posted by Harry Prasetyo at 21.20
Tasbih berukuran raksasa ada, Al Quran terbesar pun juga ada, Nah bagaimana soal Bedug, adakah bedug berukuran jumbo di Indonesia. Jawabnya terang ada, Anda ingin melihat bedug-bedug berukuran jumbo di negeri ini gampang caranya! Anda tinggal mendatangi tiga kota dibawah ini  saja. Yang pertama kota Purworejo tepatnya di  Masjid Agung Darul Muttaqin, kedua di Jakarta Islamic Centre (JIC), Jakarta dan yang ketiga di Masjid Agung Kota Tasikmalaya

1.Bedug Masjid Agung Darul Muttaqin
Kota Purworejo mempunyai bedug raksasa yangg bernama Bedug Kyai Bagelan dan konon kabarnya merupakan bedug berukuran paling besar di dunia. Bedug yang merupakan peninggalan masa syiar islam pada abad XIX d ini terbuat dari bongkot (pangkal) pohon jati berumur ratusan tahun yang berasal dari Dusun Pendawa, Kecamatan Purwodadi. 
foto: www.revienspurworejo.com
         Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat,  pohon jati yang digunakan sebagai bahan bakunya itu  mempunyai cabang lima dengan ukuran yang cukup besar hingga bahkan tidak cukup dirangkul tiga orang sekaligus. Maka, tak heran kalau Bedug tersebut juga dikenal sebagai Bedug Pendawa.
           Soal ukurannya yang jumbo, bedug ini memiliki panjang 292 cm dengan garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm. kulit beduk terbuat dari kulit banteng. Namun, karena sempat rusak, akhirnya diganti dengan kulit sapi. Beduk ini memerlukan paku sebanyak 120 buah untuk di bagian depan dan 98 buah untuk di bagian belakang.Pada hari raya keagamaan, Beduk Pendowo pun dibunyikan.

2.Bedug Jakarta Islamic Center
Selain bedug di Purworejo, yang kedua bedug raksasa juga dapat dijumpai di Jakarta Islamic Center (JIC) di Jakarta. Bedug yang didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah ini memiliki panjang 3 meter dan memiliki diameter 2.10 meter ini.
         Bedugnya sendiri memiliki desain yang unik karen  berdasarkan ornament masjid JIC dan memiliki makna yang berkaitan dengan islam dalam setiap detail desainnya. Salah satu maknanya adalah paku yang berbentuk logo JIC dan jumlah ornament sebanyak 114 buah yang menunjukkan jumlah surat dalam Al-Qur’an. Jumlah ini sama dengan asmaul husna (sifat-sifat Allah yang baik).
          Bedug ini terdiri atas tiga komponen yaitu bedug, rumah bedug dan kentongan yang kesemuanya terbuat dari kayu jati dan nangka. Selain itu plafon rumah bedug yang ditutup dengan 40 lembar kayu jati, menunjukkan umur Rasulullah ketika pertama kali mendapatkan wahyu. Bedug ini berada di kiri mimbar Masjid JIC dan  digunakan setiap pelaksanaan shalat Jumat dan perayaan hari besar Islam.

3.Bedug Masjid Agung Kota
Bedug besar ketiga ada di kota Tasikmalaya, Jawa Barat tepatnya di bagian depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Adalah Beduk Kia Ijo namanya, yang  mempunyai diameter 2,02 meter, panjang empat meter, dan tinggi dua meter. Berat bedug ini sekitar satu ton dan pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri).
         Bedug ini merupakan sumbangan dari perusahaan swasta. Sejak 2006, beduk ini sering mengikuti pawai beduk. Setiap bulan Puasa, Kiai Ijo selalu dibawa untuk parade beduk keliling seluruh Indonesia. Bedug Kiai Ijo tidak pernah dipakai dalam kegiatan sehari-hari, dan cenderung menjadi hiasan masjid karena masjid ini sudah memiliki beduk lain yang berukuran lebih kecil. Beduk kecil itulah yang biasa dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
        Berbeda dengan bedug di JIC yang berbahan baku kayu jati dan nangka, bedug di masjid ini terbuat dari kayu bingkerey, jenis kayu yang sangat kuat dan keras. Nah, untuk kulit bedugnya berasal dari kulit kerbau yang didatangkan secara khusus dari Banten.
         Untuk menabuh Kiai Ijo, bisa dilakukan oleh empat orang sekaligus dan perlu kekuatan yang penuh. "Beduk ini kalau ditabuh dapat mengeluarkan bunyi yangsangat mantap, bernada rendah sekali tetapi terdengar sangat agung. (berbagai sumber)

2 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos