Kamis, 19 Juli 2012

Museum Marketing Pertama ada di Bali

Posted by Harry Prasetyo at 19.42
Museum ini berbeda dengan museum lainnya di Indonesia, bahkan di dunia. Ya, sebuah museum marketing pertama yang pernah ada. Pertama untuk museum dengan konsep dan koleksi-koleksi yang berbeda ,sama halnya dengan Museum Pegadaian yang ada di Sukabumi.

         Adalah Museum Marketing 3.0 di Jl Raya Ubud, Bali yang merupakan museum perwujudan dari buku Hermawan Kertajaya bersama Philip Kotler "Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit".

“Marketing 3.0” adalah wujud dari marketing yang mencoba menyeimbangkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan tuhan. Ini adalah perkembangan mutakhir dari “Marketing 1.0” yang mementingkan penjualan dan “Marketing 2.0” yang menekankan kepuasan konsumen selain penjualan. Ya, museum yang merupakan proyek kerjasama antara yayasan Kotler, Kerajaan Gianyar dan tokoh marketing Indonesia Hermawan Kertajaya ini diharapkan dapat memberikan pencerahan pada dunia marketing Indonesia yang tidak hanya berorientasi pada jual, jual dan jual.

        Anda ingin lebih akrab dengan dunia marketing? Layak untuk datang ke museum yang diresmikan oleh bapak marketing modern Philip Kotler pada 27 Mei 2011 ini. Museum ini memiliki dua lantai dengan atmosfer modern terasa kental mengemuka di berbagai sudut museum baik lewat interior ruangan yang minimalis maupun penggunaan peranti elektronik canggihnya.

Di lantai pertama berisikan suguhan materi marketing modern 3.0 dengan teknologi modern berikut dengan  TV layar sentuh yang menampilkan perusahaan-perusahaan yang dianggap telah mempraktekkan teori “Marketing 3.0”, misalnya perusahaan Grameen Bank milik peraih nobel Muhammad Yunus dan Mayo Clinic di Amerika Serikat.

Museum ini pun memuat contoh pemasaran berbasis spirit kemanusiaan dari belasan perusahaan mendunia, seperti Walt Disney, The Body Shop, termasuk Puri Saren Ubud yang mampu mengelola Ubud sehingga menjadi tujuan wisata mendunia.

Selain itu khusus di lantai 1, disediakan juga sofa empuk nan nyaman untuk istirahat pengunjung. Ada pula ruang bioskop yang memutar film-film mengenai tehnik pemasaran yang telah berhasil mengubah dunia. Lalu di lantai 2 di isi oleh berbagai lukisan, patung dan benda seni lainnya dari Ubud.(berbagai sumber)

2 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos