Selasa, 08 Mei 2012

Legenda Cinta Pantai Indonesia: Pantai Petanahan

Posted by Harry Prasetyo at 20.22
Sebenarnya pantai-pantai di Indonesia beberapanya mempunyai legenda yang cukup menarik juga, terlebih lagi apabila legenda itu menceritakan cinta sepasang pria dan wanita seperti kisah cinta di Pantai Karang Nini. Dengan segala macam lika liku romannya akhirnya cerita itu pun menjadi semacam pemanis dari objek wisata tersebut, tentu terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu.

Pantai Petanahan yang terletak di Kebumen ternyata memiliki kisah cinta yang cukup asik untuk disimak. Yah menurut cerita yang ada, pada sekitar tahun 1601 yakni pada masa pemerintahan Mataram yang Rajanya Sutawijaya lahir seorang gadis cantik dan jelita yang bernama Dewi Sulastri. 

Segala rupa kecantikan bak seorang malaikat, Dewi Sulastri memang tiada duanya, begitu pula dengan sifatnya yang selalu ramah terhadap siapa pun. Tapi ada satu yang menganggu dirinya, yaitu darah kebangsawananny yang bernama Lastri, panggilan akrab Sulastri. Hidupnya merasa terkekang dengan adat yang terjadi di lingkungannya. Sebab, Lastri ini adalah anak dari seorang Bupati Pucang Kembar, ayahnya tak lain adalah Bupati Citro Kusumo yang punya nama di tengah masyarakat sana.

Yah, namanya juga zaman dulu jodoh bukan di tangan kita terkadang, tetapi di tangan orang tua, begitu pula dengan nasib Sulastri. Ayahnya mencalonkan dirinya dengan seorang pria yang bernama Joko Puring. Seorang Adipati di Bulupitu. Sayang, Sulastri merasa bukan siti nurbaya dan tak mau dijodohkan begiu saja dengan pria itu.

            Nah, suatu ketika muncullah seseorang yang bernama Raden Sujono yang hanya seorang anak Demang dari Wonokusumo yang datang untuk menjadi seorang pembantu. Dag dig dug lah hati Lastri saat melihatnya. Mungkin pikir Sulastri  Raden Sujono adalah pria yang tepat untuknya, dia pun melontarkan berbagai macam alasan supaya Raden Sujono diterima sebagai abdi dalem di Pucang Kembar. 
sumber footo:www.mengantibeach.blogspot.com
Untungnya Bapak Lastri tidak tuli dan mendengar ucapan anak gadisnya itu, tak pelak diterimalah Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar. Padahal Joko Puring pernah sebelumnya mengajukan alasan pada Bapaknya Sulastri agar menolak keinginan Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar.

Bak kisah sinetron masa kini, akhirnya terbentuklah cinta segitiga antara Joko Puring dan Raden Sujono yang sama-sama mencintai Dewi Sulastri.  Namun siapa sangka, cinta segitiga itu berbuah  huru-hara di Kabupaten Pucang Kembar. Tapi akhirya, Raden Sujono yang menjadi pemenang dan berhasil mempersunting Ratu Ayu Kabupaten Pucang Kembar dan menggantikan Citro Kusumo menjadi bupati di Kabupaten tersebut. Joko Puring tinggalah dia menjadi seoarang pecundang.

Ehh, ternyata setelah kekalahannya pertama, Joko Puring lantas tidak tinggal diam dan akan balas dendam di hari kemudian. Dia menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan niatannya itu. Nah, setelah terdengar suami Sulastri sedang menjalankan tugas memberantas berandal.  Joko Puring pun turun aksi  dan membawa lari Sulastri sampai ke Pantai Karanggadung yang sekarang dikenal sebagai Pantai Petanahan.

Lantaran aksinya itu tercium oleh Raden Sujono, ia pun mengejarnya dan terjadilah perkelahian atas nama cinta untuk kali keduanya, tapi Sulastri akhirnya bisa direbut kembali oleh suaminya. Begitu perjuangan mempertahankan istrinya dari Joko Puring berhasil, lantas kedua pengantin baru ini beristirahat di bawah semak-semak pandan yang ada di Pantai Petanahan yang indah tersebut. Apalagi keduanya sudah lama berpisah, tentu merupakan saat terindah bagi Sulastri dan Raden Sujono.

Begitu keduanya cukup beristirahat dan memadu kasih, segeralah keduanya meninggalkan pandan yang rimbun tersebut yang telah mengukir cinta keduanya. namun sebelumnya, Raden Sujono konon ditemui oleh Ny Loro Kidul. Maksudnya tempat yang telah digunakan oleh keduanya beristirahat ini diminta menjadi tempat peristirahatan, atau pesanggrahan Ny. Loro Kidul.

Sejak itu pula, sepeninggalan Dewi Sulastri si mantan Putri Citra Pucang Kembar, dengan leluasa tempat tersebut digunakan oleh Ny. Loro Kidul. Sejak itu pula, tempat tersebut dimanfaatkan orang untuk semedi dan mengheningkan cipta. (berbagai sumber)

2 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos