Kamis, 10 Mei 2012

Kisah Cinta dibalik Nama Batu Raden

Posted by Harry Prasetyo at 21.17
Sudah udara sekitarnya menyejukkan, belum lagi panorama alam pegunungannya yang ciamik, anda yang merasa stres bukan kepalang dan ingin refreshing, pantaslah apabila singgah di kawasan Baturaden yang lokasinya di Purwokerto ini

            Pasalnya, di tempat ini anda akan dijejali oleh banyaknya objek wisata yang menarik seperti Taman Bitanin yang memiliki beragam tanaman dan bunga langka, Curug Gede, pemandian air panas Pancuran Pitu, Pancuran Telu dan kolam sumber air murni Telaga Sunyi, bukan main banyaknya.

            Nah, setali tiga keping dengan objek wisata lain yang bertebaran seantero nusantara ini.  Lagi-lagi bukan tempat wisata apabila tidak ada cerita legenda sebagai bumbu pelengkapnya, objek wisata Batu Raden pun demikian adanya.

Alkisah kenapa objek wisata ini bernama Baturaden? begini ceritanya, zaman dahulu di sebuah kadipaten hidup seorang pembantu yang bernama Suta, yah namanya pembantu di zaman dimana kendaraan bermotor belum dikenal, kerjaanya yaitu merawat kuda milik sang Adipati yang tak lain adalah majikannya sendiri. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, ia biasanya berjalan-jalan di sekitar Kadipaten.

Eh, disaat Suta sedang asiknya berjalan-jalan di sekitar tempat pemandian atau disebut Taman Sari. Tiba-tiba terdengar suara teriakan gadis dari kejauhan, tak pelak ia pun mencari arah jeritan tadi. Terus mencari, akhirnya ia tiba di dekat sebuah pohon besar.

Di bawah pohon itu putri adipati menjerit lantaran tak jauh darinya ada seekor ular yang sangat besar sedang bergantung. Suta sendiri rada keki karena sebenarnya ia juga takut melihat ular tersebut. Namun apa daya ia harus melawan rasa takutnya sendiri untuk menolong sang putri.

Untung saja tak jauh darinya ada sebuah bambu, tak pakai lama dipukulah kepala ular tersebut berkali-kali. Ular tersebut langsung kelojotan dan tak lama kemudian, ular tersebut pun diam tak bergerak alias  mati.
            Nah, semenjak kejadian itu dua insan manusia itu pun semakin akrab. Bahkan sampai akhirnya jatuh hati dan berencana meningkatkan hubungan mereka ke jenjang berikutnya,yaitu pernikahan. Namun sayang hubungan keduanya tidak direstui oleh bapaknya sang putri, alasannya sederhana karena perbedaan status.

Apa kata orang nantinya? Keturunan bangsawan menikahi seoarang pembantu. Hati Sang putri terluka melihat sikap bapaknya itu. Apalagi saat mendengar kabar bahwa Suta akan dimasukkan ke penjara bawah tanah oleh sang adipati. Penjara adalah tempat yang tepat bagi dia yang berani-beraninya  melamar seoarang putri seorang adipati yang berbeda derajat dan martabat dengannya.

Sungguh malang nasib Suta, di penjara ini ia tidak diberi makan dan minum. Deritanya tak berhenti disitu,  ruang penjara yang dihuninya juga digenangi dengan air setinggi pinggang. Suta pun jatuh sakit. Mendengar kabar keadaan Suta, sang putri bertekad untuk membebaskan kekasihnya, strategi pun diatur olehnya

Dengan dibantu oleh pengasuh sang putri, Suta berhasil diam-diam menyelinap di penjara bawah tanah lalu dibawa ke suatu tempat. Di sana sang putri telah menunggu dengan seekor kuda. Bersama kemudian mereka menunggang dengan seekor kuda dan pergi meninggalkan Kadipaten.

Dalam perjalanan agar tidak ada yang mengenalinya, keduanya menyamar sebagai orang desa. Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, sampailah keduanya di tepi sebuah sungai. Mereka beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Sang putri merawat Suta yang masih sakit.

Berkat kesabaran dan ketelatenan sang putri merawat Suta dan beberapa hari kemudian pemuda itu akhirnya dapat sembuh kembali..Karena tempat mereka berhenti dirasa cocok bagi mereka, maka keduanya memutuskan untuk menetap disana. Nah, tempat itulah yang kemudian dikenal dengan nama Baturaden, yang artinya Batur (pembantu) dan Raden (bangsawan). (berbagai sumber)

2 comments:

 

Jejak Cerita Wisata Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos